MENGAPA HARUS AHLUSSUNAH WAL-JAMA’AH AN-NAHDLIYAH ?

  • Bagikan
Buku ini diterbitkan pertama kali oleh Literasi Nusantata


Oleh: Habib Sulton Asnawi.

Samapai saat ini di belahan dunia khususnya di Indonesia, agama yang seyogyanya dapat memberikan kedamaian, kesejukan dan keramahan. Namun justru agama seringkali dijadikan legalitas dan legitimasi untuk memicu masalah yang mengatasnamakan membela agama, dapat dikatakan bahwa saat ini agama sering dijadikan sebagai aspirasi untuk kekerasan bukan inspirasi untuk kedamaian. Sebagai contoh misalnya gerakan Organiasi Masyarakat (Ormas) Islam maupun individu yang terlihat ekstrim, intoleran, mudah mengafir-kafir-kan, mudah membid’ah-bid’ah-kan serta dakwah dengan nuansa kebencian dan cacian. Anehnya adalah, Ormas-ormas Islam yang mudah mengafir-kafir-kan dan membid’ah-bid’ah-kan tersebut mengaku sebagai Ormas yang berfaham Ahlussunah Wal-Jama’ah (Aswaja), akan tetapi justru memecah belah persatuan anatar umat Islam. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama (NU), sebagai Ormas Islam terbesar di dunia yang memegang teguh paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), telah mempertegas ideologi dan identitasnya, yang tentu berbeda dengan ideologi Ormas Islam yang lain. Penegasan ini karena semakin banyaknya Ormas-ormas Islam yang juga mengaku berpaham Aswaja. NU sebagai Ormas Islam memiliki karakteristik sebagai Ormas Islam yang memiliki manhaj Ahlussunah Wal-Jama’ah An-Nahdliyah yang dijadikan landasan berfikir NU.
Mengapa harus Ahlussunah Wal-Jama’ah An-Nahdliyah? karena karakteristik NU yang bermanhaj Ahlussunah Wal-Jama’ah An-Nahdliyah tersebut memiliki karakteristik. Berikut adalah karakteristik Aswaja An-Nahdliyah yang dijadikan manhaj oleh NU.

Pertama Katagori Amaliyah, hal ini terait dengan cara ibadah. NU yang beridiologi Aswaja, tetap menjaga kemurnian ajaran-ajaran Islam, dengan tetap berpedoman kepada al-Qur’an, Hadis Nabi, dan para Sahabat dengan tetap melihat sanad keilmuan yang jelas dan teruji. Katagori amaliyah NU Aswaja An-Nahdliyah ini memunculkan istilah:
(1) Akidah Sunni yang mengikuti madzhab Imam Abu Hasan pengikut Asy’aryah dan Maturidyah.
(2) Fiqh Sunni, yaitu megikuti madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), yang menggunakan rujukan al-Quran, al-Hadit, ijma’ dan Qiyas. Dari keempat sumber yang ada, al-Qur‟an yang telah dijadikan sebagai sumber utama. Ini artinya bahwa apabila terdapat masalah kehidupan yang mereka hadapi, terlebih dahulu harus dikembalikan kepada al-Qur’an sebagai pemecahannya. Apabila masalah tersebut terdapat pemecahannya dalam al-Qur‟an, maka selesailah sudah permasalahan tersebut, akan tetapi apabila masalah tersebut tidak ditemukan dalam al-Qur’an, maka hendaklah mencari pemecahannya dalam suunah Nabi SAW. Apabila masalah tersebut ada dalam sunnah Nabi SAW, maka selesailah masalah tersebut. Dan apabila masalah itu tidak ada pemecahannya dalam sunnah Nabi, maka hendaklah mencari di dalam ijma’ para ahl al-hal wa al-‘aqd di kalangan para ulama terdahulu. Apabila masalah tersebut ada pemecahannya dalam ijma’, maka terjawablah permasalahannya tersebut, akan tetapi jika masalah tersebut tidak bisa diselesaikan secara ijma’, maka barulah menggunakan akal untuk melakukan ijtihad dengan mengqiyaskan hal-hal yang belum diketahui status hukumnya kepada hal-hal yang sudah diketahui status hukumnya. Adapun pokok ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dalam dimensi syari’ah mencakup dua bagian, yakni tentang ‘ubudiyah (yang mengatur tentang hukum Islam) dan mu’a>malah (yang mengatur tentang hubungan manusia dengan benda).
(3) Tasawuf Sunni, yang mengikuti metode tasawuf Abu Qashim Abdul Karim al-Qusyairi, Imam Al-Hawi, Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi, yang memadukan antara syari’at, hakikat dan makrifat. Aspek tasawuf adalah aspek yang berkaitan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, memantapkan keimanan, mengkhusu’kan ibadah dan memperbaiki akhlak. Pada dasarnya ajaran tasawuf merupakan bimbingan jiwa agar menjadi suci, selalu tertambat kepada Allah dan terjauhkan dari pengaruh selain Allah. Jadi tujuan tasawuf adalah mencoba sedekat mungkin kepada Allah SWT dengan melalui proses yang ada dalam aturan tasawuf.

Kedua katagori Fikrah (Pemikiran), dalam pemikiran NU Aswaja An-Nahdliyah memiliki prinsip-prinsip dasar diantaranya adalah tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazun (seimbang) serta ta’adul (keadilan). Prinsip-prinsip tersebut dapat dimaknai bahwa “Orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar-dasar moderasi, menjaga keseimbangan, keadilan dan toleransi”. Prinsip-prinsip tersebut mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi, oleh karena itu Aswaja tidaklah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim. Sebaliknya Aswaja bisa berkembang dan sekaligus dimungkinkan bisa mendobrak kemapanan yang sudah kondusif. Tentunya perubahan tersebut harus tetap mengacu pada paradigma dan prinsip al-shalih wa alahslah.

Dalam merespon berbagai persoalan baik yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan, Nahdlatul Ulama memiliki manhaj Ahlusunnah wal Jama’ah yang dijadikan sebagai landasan berpikir Nahdlatul ‘Ulama (Fikrah Nahdliyah).
Adapun ciri-ciri dari Fikrah Nahdliyah antara lain:
(1) Fikrah Tawassuthiyah (pola pikir moderat), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan i‟tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan.
(2) Fikrah Tasamuhiyyah (pola pikir toleran), artinya Nahdlatul Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan berbagai pihak lain walaupun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.
(3) Fikrah Ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul „Ulama selalu mengupayakan perbaikan menuju kea rah yang lebih baik (al-ishlah ila ma huwa al-ashlah).
(4) Fikrah Tathawwuriyah (pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul Ulama senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.
(5) Fikrah Manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul ‘Ulama.

Ketiga, katagori Harakah (gerakan). Menjadi NU harus bergerak sesuai dengan cara NU. Gerakan NU yang baik adalah gerakan yang selaras dan satu koordinasi dengan keorganisasian NU. Harakah jam’iyyah NU ini menyangkut berbagai aspek dan bidang, misalnya dalam hal ekonomi (Nahdlatut Tujar), Pendidikan (Ma’arif), sosial/mabarot (LAZISNU), budaya, politik kenegaraan (selalu berpegang bahwa NKRI Harga Mati).
Keempat, katagori Ghirah (semangat). Semangat ini adalah semangat juang yang menggelora dalam berkhidmat kepada NU. Semangat dalam ber NU tidak akan pernah dapat dirasakan dan ditemui, jika tidak benar-benar menjalankan Harakah Nahdliyyah.

Dalam aspek budaya yang ada di Indonesia, NU memiliki karakteristik tersendiri di dalam menghargai dan menyikapi budaya lokal yang ada di Indonesia, yaitu konsep “Islam Nusantara”. Istilah Islam Nusantara di sini merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras, Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya. Islam Nusantara memiliki karakter ramah, anti radikal, inklusif dan toleran bukan Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara. Pendekatan budaya dengan merangkul, melestrarikan dan menghormati budaya, adalah ciri khas NU yang memegang prinsip tasamuh (toleran).Dua hal makna yang sangat berbeda antara “Islam yang dinusantarakan” dan “Islam di Nusantara”. Kata Nusantara itu akan salah maksud jika dipahami dalam struktur na’at man’ut (penyifatan) sehingga berarti, Islam yang dinusantarakan. Akan tetapi akan benar bila diletakkan dalam struktur idhafah (penunjukan tempat) sehingga berarti Islam di Nusantara.

Islam nusantara tidak anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam nusantara tetap berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Saw. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karena kehadiran karakteristik Islam nusantara menegaskan pentingnya keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Jika Islam identik dengan Arab, Abu Jahal juga orang Arab, dia memakai surban dan jubah. Tentu ketika memakai surban dan jubah semata mengikuti sunah Rasul, bukan mengikuti budaya Arab.

Kesimpulannya adalah Ormas-ormas Islam di dunia secara amaliyahnya mengamalkan amaliyah Ahalussunnah Wal Jama’ah. Akan tetapi berbeda dengan Ahalussunnah Wal Jama’ah yang dianut oleh jam’iyah NU. Secara keimanan kepada Allah dan Rosulullah SAW bisa saja sama, akan tetapi sangat berbeda jauh pada paradigma Fikrohnya (pemikirannya). Fikroh Aswaja an-Nahdliyah memiliki pola pikir yang menjunjung tinggi nilai-nilai tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan ‘adalah (adil). Dalam konteks politik kenegaraan Aswaja an-Nahdliyah memiliki karakteristik, Aswaja an-Nahdliyah menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila, menghargai hak asasi manusia (HAM), Bhineka Tunggal Ika, serta menghormati tradisi budaya Nusantara. Artinya bahwa, tidak semua penganut dan pengamal Aswaja di negara Indonesia itu adalah jam’iyah NU. Agama dalam pandangan Aswaja an-Nahdliyah adalah sebagai motivasi kehidupan untuk kerukunan bukan aspirasi untuk kekerasan, apalagi kekerasan yang mengatas-namakan agama.

 2 x baca,  2 x hari ini

  • Bagikan